Derai air mata selalu mengiringi perjalanan hidup
yang berliku.
Ternyata, benar kata orang cinta itu seperti pedang bercabang dua, saat ia di sentuh oleh orang yang tertanam iman di hatinya pedang itu menjadi bermanfaat bagi orang lain, tapi saat cinta itu di jamah oleh orang yang hatinya dikuasai nafsu, cinta itupun akan mengantarkan pada jurang kesengsaraan. Benar pula kata orang, cinta juga seperti bunga mawar saat kau tidak berhati-hati memetiknya, durinya akan melukai kulitmu. Di dunia yang sudah mengakar tipu muslihat ini, aku yakin tidak ada cinta yang sempurna. Sesempurna mentari yang tak pernah bosan memancarkan sinarnya hingga gelap dan keheningan malam mampu membias perlahan menyambut damainya pagi buta. Sesempurna dan seindah rembulan yang senantiasa mengantarmu tidur dan mengusir mimpi buruk ketika hadir di benakmu yang lelah oleh deburan aktivitas menggunung. Dan sesempurna kasih sayang baginda nabi Muhammad yang rela menumpahkan kerlingan air matanya demi memohon agar dosa umatnya yang melebihi gunung everest bisa diampuni oleh sang Maha Cinta.
Di
dunia yang diselimuti kabut harapan ini, yang ada hanya seberapa kuat hati kita
menahan goresan luka yang tercipta karena cinta. Setangguh apa diri kita
melawan rasa cemburu yang bahkan membabi buta, menguasai akal sehat hingga
tidak bisa menepis awan hitam dan menimbulkan perpecahan. Seberapa kuat iman
dan taqwa yang mengakar di lubuk hati. Dan seberapa sanggup hati kita
menghadirkan ikhlas, sabar, serta maaf saat takdir memberi kabar bahwa dia yang
selama ini dicinta menjadi milik orang lain. Karena kesempurnaan cinta hanya
terpancar dari Maha Dahsyat saja. Cinta manusia yang sempurna hanya tertulis di
syahdu dan mendayunya bahasa novel serta tergambar dengan indah di lukisan
layar saja. Mereka begitu lihay menceritakan perihal positif tentang cinta.
Tapi mereka mengabaikan kehidupan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang dipenuhi
duri dalam perjalanannya mengarungi luas samudera rumah tangga. Cinta yang
ditaburi pahit manis kehidupan. Hingga cinta yang sering didatangi pihak
ketiga, seseorang yang tidak kita inginkan hadir di istana kita. Ah… itulah
hidup.
Kau
tahu, tidak semua insan menghadirkan cinta dihatimu dengan cara yang romantis
seperti film dan novel favorit mu, karena cara orang menghadirkan cinta itu
berbeda-beda, ada yang sesejuk kabut pagi di pedesaan, dia memeluk tubuh mu
erat hingga kau menggigil lalu pergi menyibak entah kemana saat mentari
menampakkan kemilaunya. Ada juga yang seperti sambaran petir, membuatmu
terkejut dengan suara gemuruhnya tapi ia hanya singgah lalu menghilang tanpa
pamit. Ada pula yang datang seperti pelangi, dia hadir setelah mendung
menyelimuti awan dan hujan lebat mengguyur bumi. Walapun indah tapi hanya
menyapa saja. Tapi ada juga yang serupa dengan sebatang korek api, walaupun
cahayanya tidak seterang mentari dan rembulan, tapi ia merelakan dirinya
terbakar demi memberi seberkas sinar untuk menemanimu dalam kegelapan dan
mengusir mimpi buruk yang terus menggodamu saat kau terlelap, meski akhirnya
kau tidak akan menemukan korek api itu lagi saat kedua matamu terbuka di pagi
hari karena tubuhnya telah termakan oleh api yang menemanimu tidur.
Itulah
hidup, memang tidak bisa dipungkiri hanya bisa disyukuri, segala anugerah Allah
yang tak terbandingi nilainya meski dengan koin emas yang ditumpuk setinggi
menara sofaz di
Azerbaijan atau dengan intan berlian yang jumlahnya setara dengan butiran pasir
di samudera hindia. Iya memang benar, cinta adalah salah satu anugerah terindah
dari Allah. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang tidak teraliri cinta di
dalam darahnya, hanya saja bentuk dan kadarnya masing-masing bisa berbeda.
Memangnya
pada saat kita berbicara cinta, apa yang hadir dipikiranmu? Perasaan bahagia
dengan bunga-bunga yang bermekaran di hatimu atau rasa sakit yang mengoyak
perasaanmu hingga berdarah atau bahkan sebuah penantian panjang yang
menggoreskan rindu begitu mendalam saat orang yang kau cintai tidak
menghiraukan perasaanmu sama sekali?
Aku
hanya ingin tahu dan jawab pertanyaan ini di benakmu sendiri. Bayangkan saat
seseorang menggenggam lembut tanganmu dan menyatakan perasaan tulusnya di
hadapanmu dengan linangan air mata yang menandakan kesungguhan, siapa bayangan
yang terlintas dipikiranmu?
Ah…
itu adalah pertanyaan bodoh, mungkin sebuah kesungguhan akan lebih indah
apabila didasari dengan iman dan taqwa. Sudah menjadi hal yang pasti bahwa
seluruh alam semesta ini akan kembali padaNya. Begitu pula dengan cinta, ia
akan lebih indah jika setiap nafasnya melantunkan dzikrullah. Bahkan bukan hanya
cinta tapi juga segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan terasa lebih
indah. Ada yang mengatakan bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang
sudah melalui ijab qabul. Lalu bagaimana dengan perasaan ini? Perasaan yang
sudah terlanjur tumbuh hingga untuk memetik daunnya saja aku tidak tega,
apalagi harus mencabutnya dengan sadis lalu menguburnya dalam-dalam, aku tidak
yakin sanggup melakukan itu.
Sebagian
wanita memilih untuk mengungkapkan perasaanya meskipun tanpa ikatan halal tapi
ada juga yang memilih memendamnya dan menyalurkan dalam doa di sepertiga malam,
lalu doanya menggema diangkasa hingga bulan dan bintangpun ikut mengamini.
Sakit memang memendam cinta tulus demi melindunginya agar dia tidak
mempertanggungjawabkan kesalahannya apalagi itu karena drimu, ketahuilah hanya
ikhlas dan sabar yang bisa menjadi pengobat rindu yang berapi api disini, iya
didalam sini, di dalam perasaan yang letaknya jauh sekali dan yang bisa melihat
lukanya hanya sang Maha Cinta.
(Ratna Deviana Paraton)
Komentar
Posting Komentar